<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Begundal</title>
	<atom:link href="http://begundal.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://begundal.wordpress.com</link>
	<description>Keras Kepala dan Semaunya Sendiri</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jun 2008 19:17:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='begundal.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Begundal</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://begundal.wordpress.com/osd.xml" title="Begundal" />
	<atom:link rel='hub' href='http://begundal.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tubuh</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/30/tubuh/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/30/tubuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 19:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/30/tubuh/</guid>
		<description><![CDATA[Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/sebenarnya mayat yang saya pinjam ….(sajak &#8220;Tubuh Pinjaman&#8221;, Joko Pinurbo) Spencer Tunick pernah membikin geger New York. Ia berhasil mengumpulkan puluhan orang yang bersedia menjadi model untuknya. Saat sesi pemotretan, Tunick lebih dulu memberi sejumlah instruksi kepada puluhan orang yang hendak dipotretnya. Begitu aba-aba dikeluarkan puluhan model sukarela itu melolosi kain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=310&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:85%;">Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/<br />sebenarnya mayat yang saya pinjam ….<br />(sajak &#8220;Tubuh Pinjaman&#8221;, Joko Pinurbo</span>)</div>
<p><a href="http://bp1.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SGmD4SiN9aI/AAAAAAAAAeo/yRgbc0UhbyU/s1600-h/body2.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:195px;height:248px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp1.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SGmD4SiN9aI/AAAAAAAAAeo/yRgbc0UhbyU/s320/body2.jpg" alt="" border="0" /></a>Spencer Tunick pernah membikin geger New York. Ia berhasil mengumpulkan puluhan orang yang bersedia menjadi model untuknya. Saat sesi pemotretan, Tunick lebih dulu memberi sejumlah instruksi kepada puluhan orang yang hendak dipotretnya. Begitu aba-aba dikeluarkan puluhan model sukarela itu melolosi kain yang mereka kenakan. Telanjang. Mereka lalu merebahkan diri. Ada yang telentang. Beberapa tengkurap. Sejumlah orang nungging. Secepat kilat Tunick menjepretkan kameranya. Klik… klik….</p>
<p>Tunick pun digiring polisi. Ia didakwa mengganggu ketertiban umum. Kita lantas bisa bertanya: Siapa yang sebetulnya berkuasa atas tubuh kita?</p>
<p>Di Indonesia sendiri, soal tubuh menjadi salah satu pokok terpenting yang memicu polemik Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Dalam RUU itu, soal bagaimana cara berpakaian pun diatur. RUU itu secara jelas memosisikan tubuh sebagai sumber dosa dan kejahatan. Karenanya tubuh mesti didisiplinkan. Negara sendiri yang akan mendisiplinkan.</p>
<p>Aksiden yang menimpa Tunick dan lahirnya RUU APP menegaskan satu hal pokok: kita ternyata tak sepenuhnya berkuasa atas tubuh sendiri!<span></p>
<p>****</p>
<p>Berabad-abad lamanya tubuh tak pernah menjadi perhatian. Sebelum fajar humanisme menyingsing di ufuk Eropa, para filsuf dan para teolog lebih kerap abai pada tubuh. Jika pun didedah, tubuh biasanya selalu diposisikan secara negatif.</p>
<p>Dalam soal tubuh, ada tiga kubu di Yunani. Kubu pertama, yang digagas Cyrenaic, memaklumatkan kebahagiaan tubuh sebagai kebahagiaan yang terpenting. Epicurus menjadi pendiri kubu kedua yang memroklamirkan keyakinan ihwal arti penting kebahagiaan jiwa. Menurut kubu ini, kebahagiaan tubuh tetap diperlukan, tapi kebahagiaan jiwa jauh lebih penting. Sedangkan kubu ketiga secara esktrim berpihak pada kebahagiaan jiwa. Kutub yang didirikan oleh Orpheus ini menegakkan prinsip kalau tubuh adalah neraka bagi jiwa.</p>
<p>Kendati tak populer, gagasan tentang tubuh sebagai penjara/neraka ini dianut banyak sekali filsuf Yunani, tentu saja dengan pelbagai variannya.</p>
<p>Socrates (469-399 SM) menjadi salah satu pelopornya. Murid terbaik Socrates, Plato, juga dipengaruhi ide ihwal tak berharganya tubuh dan segala hal yang bersifat fisikal. Ia mewariskan pemikiran ihwal arti penting “idea”. Baginya, “idea” adalah sumber segala hal. Aristoteles juga melibatkan diri dalam sejarah “terpuruknya” tubuh dengan menekankaan fakultas sensoris dan inteligensi dalam “know theyself”.</p>
<p>Hal itu terus menubuh dalam tradisi filsafat Barat hingga Rene Descartes. Filsuf ini menyusun dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res cogitans (yang dipikirkan). Lewat diktum terkenalnya, “saya berpikir maka saya ada” (cogito ergo sum), orang Prancis yang berjasa besar dalam terbentuknya tradisi filsafat modern itu secara tegas mementingkan intelegensia dan semua aktifitas yang berkaitan dengan proses berpikir, dan dengan demikian menempatkan gerak-gerik tubuh ke dalam aktivitas kelas dua.</p>
<p>Bukan sebuah koinsidensi jika kebanyakan doktrin dan tradisi agama pun selanggam sehaluan dengan doktrin para filsuf di atas. Agama yang terkadang saling berbunuhan dan menebar dengki satu sama lain justru lumayan kompak dalam satu hal ini: tubuh adalah sumber segala dosa.</p>
<p>Laidlaw, lewat bukunya The Bible Doctrine of Man, menunjukkan beberapa variasi pemakaian kata yang tertera dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan elemen yang lebih rendah dalam diri manusia, seperti &#8220;daging&#8221;, &#8220;debu&#8221;, &#8220;tulang&#8221;, &#8220;usus&#8221;, &#8220;ginjal&#8221; dan juga pemakaian bentuk metafora &#8220;pondok tanah liat&#8221;, sedangkan &#8220;roh&#8221;, &#8220;jiwa&#8221;, &#8220;hati&#8221;, dan &#8220;pikiran&#8221;, menurut Laidlaw, dipakai untuk menunjuk elemen yang lebih tinggi. Kendati Perjanjian Baru jauh lebih netral, hal itu tak berhasil menolong terbentuknya tradisi Kristen yang lebih optimis memandang tubuh.</p>
<p>Dalam teologi Islam, tubuh lagi-lagi diposisikan sebagai sumber maksiat dan kotor sehingga wajib ditutupi dan disucikan secara khusus lewat sebuah tata cara standar (wudlu) tiap kali sebuah ritus ibadat hendak digelar. Tata cara berpakaian juga diatur secara rigid. Islam bahkan punya kosa kata khusus untuk bagian tubuh yang haram diperlihatkan yaitu kata “aurat”.</p>
<p>Dalam tradisi Buddha, perayaan kebahagiaan tubuh bahkan dikurung sebagai hal yang bisa menghambat pencapaian menuju nirwana. Terlalu mengejar kenikmatan tubuh bisa membikin seseorang akan berreinkarnasi ke dalam ujud yang lebih buruk di kehidupan selanjutnya. Itulah sebabnya sejumlah ritual yang meminimalisir kebahagiaan tubuh menjadi penting dalam tradisi Buddha (puasa dan semedi dengan durasi waktu yang lama, misalnya). Samsara menjadi bagian tak terlewatkan dalam prosesi menuju puncak pencapaian spiritualitas.</p>
<p>*****</p>
<p>Tubuh mulai menjadi perhatian ilmu sosial mulai abad 19. Antropologi menjadi disiplin yang sejak awal kelahirannya sudah meletakkan tubuh sebagai bagian penting. Itu terjadi karena sedari kemunculannya antropologi berada dalam tekanan kolonialisme yang membebaninya tugas mencari unsur-unsur yang jadi persamaan semua kebudayaan untuk mengurangi relativitas sosial dan budaya. Istilah human universal (yang dipersempit menjadi culture universal) lantas menemukan tubuh manusia berikut asal-usul dan gerak-geriknya sebagai common denominator bagi pelbagai kelompok.</p>
<p>Antropologi juga menjadi dispilin yang paling awas terhadap peran tubuh masyarakat pramodern. Tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius. Gerik tubuh dalam pelbagai ritus hingga tatto menjadi tematik yang penting dalam setiap studi atas kebudayaan-kebudayaan pramodern atau primitifyang dilakukan para antropolog.</p>
<p>Ignas Kleden pernah memberi tengara bahwa perhatian intelektual terhadap ide-ide Nietzsce menjadi humus yang menyuburkan perhatian ilmu sosial atas tubuh. Dalam serangannya terhadap fatsoen kelas menengah Jerman dan gereja, Nietzsche yakin benar bahwa yang disebut sebagai pengalaman estetik lebih akrab dengan ekstasi seksual maupun dalam extravaganza tarian primitif. Pendek kata, dipicu oleh gerak dan kebahagiaan tubuh, ketimbang kontemplasi atau rasionalitas. Terutama dengan mencontohkan tradisi olahraga (olympic), Nietzsche menyatakan bahwa Yunani mencapai puncak kemajuannya bukan karena pemikiran rasional, melainkan karena spirit Dyonisian yang penuh kemabukan dan daya rangsang.</p>
<p>Sejak itulah tubuh tak lagi dipahami semata sebagai anasir fisikal melainkan juga sosial (the physical body is also social).</p>
<p>Banyak teori yang muncul berkaitan “tubuh sosial” ini. Robert Hertz percaya bahwa tubuh merefleksikan pola pikir masyarakat. Marcel Mauss bahkan yakin kalau pengetahuan ihwal bagaimana masyarakat menggunakan tubuhnya adalah cara paling strategis untuk mengetahui sebuah peradaban. Mary Douglas meyakini tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam buku Purity and Danger (1966), Mary melontarkan tese, &#8220;Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu&#8221;.</p>
<p>Dari semua nama itu, Michael Foucault adalah yang paling terkenal. Beberapa bukunya bahkan menjadi klasik dalam studi tubuh. Ia seperti menjungkirbalikkan tese filosofis para pendahulunya. Baginya, jiwa dan pikiran adalah efek dari tubuh. Tubuhlah penentunya. Turunan dari tese itu menyebabkan jiwa justru dimengerti sebagai perangkap bagi tubuh.</p>
<p>Dalam The History of Sexuality (1978) ia menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan: (1) kekuasaan atas tubuh yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang) dan (2) kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya.</p>
<p>Dua modus kekuasaan itu saling bertempur. Filsafat, agama, hingga negara adalah “kekuasaan dari luar” yang merepresi “kekuasaan dari dalam tubuh”. Seraya menentang kekuasaan atas tubuh, Foucault menggarap proyek yang ia sebut sebagai &#8220;revolusi tubuh&#8221; yang akan menciptakan ruang lapang bagi pembiakkan diskursus seksual yang bebas dari represi. Revolusi tubuh juga akan memungkinkan tiap orang merayakan tubuh lewat pelbagai ekstase dan penyaluran hasrat, baik libido seksual, ekonomi hingga libido atas kepuasan diri sendiri (narsisme).</p>
<p>Istilah “spesies” yang dipakai Foucault dimaksudkan sebagai tubuh yang telah menjadi target kekuasaan. Inilah politik tubuh (bio-politik) untuk memertahankan bio-power lewat pendisiplinan dan kontrol regulatif.</p>
<p>Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Semuanya ditopang oleh standarisasi “normal-tidak normal”, “sopan-mesum” hingga “sehat-waras” lewat kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi.</p>
<p>Foucault berjasa besar dalam menjlentrehkan betapa cap “sakit-waras” atau “mesum-sopan” adalah bukti bagaimana kekuasaan merejalela, dari mulai kamar mandi rumah kita, di jalanan, hingga dalam mimpi-mimpi.</p>
<p>&#8212;&#8211;<br /><span style="font-style:italic;">Post-script: Saya pernah menulis tentang visi seorang tokoh teater terkemuka, Artonin Artaud, mengenai tubuh. Untuk membacanya, sila klik </span><a href="http://pejalanjauh.com/2008/01/tubuh-dan-fantasi-artaud.html">di sini</a><span style="font-style:italic;">.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/310/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/310/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=310&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/30/tubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SGmD4SiN9aI/AAAAAAAAAeo/yRgbc0UhbyU/s320/body2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Laron</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/27/laron/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/27/laron/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 20:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/27/laron/</guid>
		<description><![CDATA[“Kapan kau terakhir menyesal?” Ia bertanya dengan wajah yang begitu tenang, seakan-akan kematian masih teramat jauh dari lehernya. “Ada banyak berkah yang tak ku syukuri, banyak kesia-siaan yang kutelan. Mungkin, bisa jadi, salah satunya adalah kau. Tapi tak pernah kubiarkan rasa sesal menggagahiku. Penyesalan hanya membuat usia akan makin terasa pendek. Hidup terlalu pendek untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=309&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp2.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SGVO3dq2tTI/AAAAAAAAAeI/7qin27QS_G0/s1600-h/lagu+siul.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:197px;height:251px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp2.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SGVO3dq2tTI/AAAAAAAAAeI/7qin27QS_G0/s320/lagu+siul.jpg" alt="" border="0" /></a>“Kapan kau terakhir menyesal?” Ia bertanya dengan wajah yang begitu tenang, seakan-akan kematian masih teramat jauh dari lehernya.</p>
<p>“Ada banyak berkah yang tak ku syukuri, banyak kesia-siaan yang kutelan. Mungkin, bisa jadi, salah satunya adalah kau. Tapi tak pernah kubiarkan rasa sesal menggagahiku. Penyesalan hanya membuat usia akan makin terasa pendek. Hidup terlalu pendek untuk dibebani sederet penyesalan!”</p>
<p>Itu jawabku. Dia menghela nafas. Kali ini lebih berat dari sebelumnya-sebelumnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku lebih memilih menatap wajahnya yang terasa makin tirus. Ada satu rahasia yang makin tak mampu ku raba. Jalanan makin gelap, juga sepi &#8211;mungkin seperti hidupnya.</p>
<p>“Kita ini seperti laron. Satu waktu kau yang menjadi api dan aku yang menjadi laron. Lain kali aku yang menjadi api dan kau yang menjadi laron.”<span></p>
<p>Aku tak memotongnya. Kubiarkan ia mengeluarkan semua yang ingin dikatakan. Ada satu perasaan yang muncul diam-diam: sebaiknya ku biarkan ia bicara apa saja, sekehendak hatinya.</p>
<p>“Kenapa kau selalu diam malam ini? Hanya menjawab pendek-pendek saja. Setahuku kau tak pernah kehabisan bahan cerita jika sedang menghabiskan malam. Ayolah, aku ingin kau bicara tentang laron-laron. Bicaralah tentang &#8216;Lagu Siul&#8217; itu!”</p>
<p>Aku rapatkan jaket hitam yang sudah apak oleh keringat dan debu. Kusulut api dan kupindahkan bara itu menjadi gumpalan asap yang terhembus dari mulut, tentu saja setelah kuhisap lebih dulu kretek dengan lingkar kuning di sepertiga ujungnya.</p>
<p>“Aku bukan Ahasveros lagi. Lupakanlah. &#8216;Lagu Siul&#8217; itu amat bagus bicara ihwal kematian dan etos untuk terus berjalan menuju titik terang, kendati laron tahu makin dekat titik terang itu sayap-sayapanya akan terbakar, dan ia akan tewas. Tidak begitu aku ingin mampus.”</p>
<p>Aku menolak permintaanya dan mencoba berkelit demi membiarkan ia bisa terus berbicara dan mengoceh saja.</p>
<p>“Kau bajingan tengik. Tapi itu pun bahkan tak sanggup membuatku menganggapmu sebagai sampah. Karena sejak awal aku tahu resikonya!”</p>
<p>Aku tertawa agak getir kali ini. Itu sarkasme paling telengas yang pernah ia sembur di depan mukaku. Tapi aku menganggapnya justru sebagai pujian. Tak mudah bisa memunggungi orang ini berkali-kali tanpa sekali pun dianggap sampah.</p>
<p>Belakangan, aku tahu, itu percakapan terakhir yang ku gelar dengannya. Tapi ia tahu, sangat amat tahu, seperti apa resiko pernah menyentuh rambutku dan menyelipkan ujungnya di balik daun telingaku…. di ujung peron Stasiun Tugu, saat aku hendak pergi untuk sebuah perjalanan tanpa tiket kepulangan.</p>
<p>Selamat jalan, Mevrouw. &#8220;Introitus: Requiem&#8221;-nya Mozart lantas mengalun pelan.</p>
<p><span style="font-size:85%;"><span style="font-style:italic;">[ katakunci: lagu siul + chairil ]<br /></span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/309/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/309/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=309&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/27/laron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp2.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SGVO3dq2tTI/AAAAAAAAAeI/7qin27QS_G0/s320/lagu+siul.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Senin</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/21/senin/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/21/senin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 22:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/21/senin/</guid>
		<description><![CDATA[Aku mengirim do’a untuk Senin dalam hidupmu: lekaslah pulih, cepatlah sehat, biar aku bisa melihat wajahmu yang cerah, yang sumringah, seperti yang sering kulihat dulu saat aku berteriak memanggilmu dari luar pagar dan rautmu lantas muncul dari balik balkon. Beberapa pisau kecil akan menyentuh tubuhmu, menyayat beberapa bagian kulitmu yang langsat. Setelah itu, sejumlah luka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=308&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku mengirim do’a untuk Senin dalam hidupmu: lekaslah pulih, cepatlah sehat, biar aku bisa melihat wajahmu yang cerah, yang sumringah, seperti yang sering kulihat dulu saat aku berteriak memanggilmu dari luar pagar dan rautmu lantas muncul dari balik balkon.</p>
<p>Beberapa pisau kecil akan menyentuh tubuhmu, menyayat beberapa bagian kulitmu yang langsat. Setelah itu, sejumlah luka akan mengendap di sana, sesuatu yang akan menjadi bagian dari biografimu. Tapi, percayalah, gurat luka –sebanyak apa pun itu—tak akan banyak mengubah: karena keindahanmu tidak dipertaruhkan pada seberapa banyak luka yang membekas.</p>
<p>Menurutku kau sudah menjalani hidup dengan cara yang hebat, melewati waktu dengan cara terbaik yang mampu kau lakukan. Kini, saatnya kau menyempurnakan hidupmu yang hebat itu dengan cara yang tak kalah bagusnya: tersenyum, tenang, mengepalkan tangan disertai sikap sumeleh yang bening.</p>
<p>Jika pun momen ini mesti dikhidmati sebagai sesuatu yang penting, sebaiknya pahamilah ini sebagai satu titik balik: setelah ini, kau yang baru telah lahir kembali, kau yang lebih mampu memahami betapa hidup adalah berkah tak tertandingi, lebih dari apa pun.</p>
<p>Senin bukan menjadi awal keruntuhan atau kejatuhanmu. Senin akan kau rayakan sebagai hari lahirmu yang kedua.</p>
<p>Semoga aku masih bisa menjadi bagian perayaan itu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/308/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/308/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=308&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/21/senin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jakarta</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/19/jakarta/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/19/jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 17:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/19/jakarta/</guid>
		<description><![CDATA[Selamat ulang tahun Jakarta, Ibukota Senja. Buatku, kau tak pernah menjadi Jancukarta.Ini bukan soal penghasilan atau pekerjaan, tapi tentang bagaimana seseorang membuka diri pada semua kemungkinan yang akan diberikan sebuah kota dan menolak untuk menelan begitu saja sejumlah stereotipe yang mengepungnya. Saya masih harus belajar menyukai siangmu yang panas dan rudin, tapi saya sudah bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=307&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp0.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SFqcuxv9SkI/AAAAAAAAAeA/P1ba3tXLV8o/s1600-h/_MG_5973.JPG"><img style="float:left;cursor:pointer;width:155px;height:212px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SFqcuxv9SkI/AAAAAAAAAeA/P1ba3tXLV8o/s320/_MG_5973.JPG" alt="" border="0" /></a>Selamat ulang tahun Jakarta, Ibukota Senja.</p>
<p>Buatku, kau tak pernah menjadi Jancukarta.Ini bukan soal penghasilan atau pekerjaan, tapi tentang bagaimana seseorang membuka diri pada semua kemungkinan yang akan diberikan sebuah kota dan menolak untuk menelan begitu saja sejumlah stereotipe yang mengepungnya.</p>
<p>Saya masih harus belajar menyukai siangmu yang panas dan rudin, tapi saya sudah bisa menyukai senja dan malammu: sebuah pentas karnaval cahaya di atas cahaya dibalut dingin dan sunyi yang kadang terasa ganjil.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><span style="font-size:85%;">[Saya pasang sajak bagus Toto Sudarto Bachtiar ini, anggap saja sebagai kado ulang tahun bagi Jakarta yang ke-481]<span style="font-weight:bold;"></p>
<p></span></span><span style="font-weight:bold;font-size:100%;">Ibukota Senja</span><br /><span style="font-size:100%;">&#8211; Toto Sudarto Bachtiar</p>
<p></span>Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari<br />Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi<br />Di sungai kesiangan, o, kota kekasih<br />Klakson oto dan lonceng trem saling menyaingi<br />Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan</p>
<p>Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja<br />Mengintai dan layung-layung membara di langit barat daya<br />O, kota kekasih<br />Tekankan aku pada pusat hatimu<br />Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu<span></p>
<p>Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia<br />Sumber-sumber yang murni terpendam<br />Senantiasa diselaputi bumi keabuan<br />Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas<br />Menunggu waktu mengangkut maut</p>
<p>Aku tidak tahu apa-apa, di luar yang sederhana<br />Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan<br />Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari<br />Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia</p>
<p>Klakson dan lonceng bunyi bergiliran<br />Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari<br />Antara kuli-kuli yang kembali<br />Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan<br />Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa<br />Di bawah bayangan samar istana kejang<br />Layung-layung senja melambung hilang<br />Dalam hitam malam menjulur tergesa</p>
<p>Sumber-sumber murni menetap terpendam<br />Senantiasa diselaputi bumi keabuan<br />Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas<br />O, kota kekasih setelah senja<br />Kota kediamanku, kota kerinduanku</p>
<p>(1951)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/307/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/307/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=307&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/19/jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SFqcuxv9SkI/AAAAAAAAAeA/P1ba3tXLV8o/s320/_MG_5973.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nasib</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/16/nasib/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/16/nasib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 13:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/16/nasib/</guid>
		<description><![CDATA[Tiga titik di tubuhmu, tiga tanda nasib di hidupmu: padanya riwayatmu dipertaruhkan, padanya —mungkin— biografi kita ditentukan. Saya tidak tahu, tak akan pernah tahu, akan berakhir di mana alur berkelok dari riwayat ini. Tapi, kabar buruk mengejutkan yang ku dengar langsung dari mulutmu semalam membuat fragmen-fragmen ringkas masa silam berkelebat sepanjang hari… sepanjang siang. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=306&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp3.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SFfkkCL-wjI/AAAAAAAAAdk/ZsMNhOc6yOA/s1600-h/2538638319_c3594f4a81.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:208px;height:203px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp3.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SFfkkCL-wjI/AAAAAAAAAdk/ZsMNhOc6yOA/s320/2538638319_c3594f4a81.jpg" alt="" border="0" /></a>Tiga titik di tubuhmu, tiga tanda nasib di hidupmu: padanya riwayatmu dipertaruhkan, padanya —mungkin— biografi kita ditentukan.</p>
<p>Saya tidak tahu, tak akan pernah tahu, akan berakhir di mana alur berkelok dari riwayat ini. Tapi, kabar buruk mengejutkan yang ku dengar langsung dari mulutmu semalam membuat fragmen-fragmen ringkas masa silam berkelebat sepanjang hari… sepanjang siang. Pada salah satu retrospeksi itu, muncul begitu saja sebiji simpulan yang mau tak mau mesti kutelan: jika ada banyak berkah yang tidak kusyukuri, salah satunya pasti adalah kau!</p>
<p>Pengakuan, tentu saja, tidak berkurang artinya hanya karena ia datang terlambat. Tapi, saya ragu, masihkah ada artinya mengucapkan syukur saat berkah itu sudah menjauh?<span></p>
<p>Jangan kau berburuk sangka dulu ihwal kata-kata “berkah itu sudah menjauh”. Itu bukanlah satu doa yang mengharapkan keburukan. Sama sekali tidak. Kata-kata itu lebih berarti sebagai satu pemahaman sederhana tentang bagaimana nasib bergulir dan bergerak. Pada akhirnya, memang, ada sehimpun jarak yang kian melebar dengan kecepatan yang –sebenarnya—lambat, tapi pasti tak bisa kita tolak.</p>
<p>Dalam soal ini, mungkin, kita tak bisa berbagi. Ini bukan soal mau atau tidak, sebab nasib memang tak bisa dibagi, betapa pun ingin kita membaginya. Nasib adalah kesunyian masing masing, kata Chairil Anwar.</p>
<p>Kata-kata Chairil itu saya ambil dari sajaknya yang berjudul “Pemberian Tahu”. Kau mungkin tak pernah membacanya dan memang tak harus membacanya. Aku sudah amat tahu kau tak terlalu berminat dengan segala tetek bengek tentang sajak. Tapi, jika boleh, ingin benar aku mengenalkan sajak Chairil itu padamu, setidaknya di sini.</p>
<p>Bukan karena sajak itu teramat indah, bukan, sama sekali bukan. Indah atau tidak, dalam urusan sajak yang subyektif sekali pun, tetap butuh argumen. Dan aku tak sedang dan memang tak ingin berargumen. Sebab waktu, mungkin, sudah terlampau mepet, sementara usia – O, usia…. – siapa yang tahu kedalaman rahasianya?</p>
<p>Aku ingin membagi sajak Chairil itu padamu semata karena aku merasa tak ada sajak lain yang paling mampu membabar seperti apa riwayat perkisahan yang pernah kau anyam, juga yang pernah ku gurat. Cobalah kau menyimaknya dan nikmati saja apa yang kau temukan di sana:</p>
<p><span style="font-style:italic;">Pemberian Tahu</p>
<p>bukan maksudku mau berbagi nasib<br />nasib adalah kesunyian masing masing<br />ku pilih kau dari yang banyak,tapi<br />sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring<br />aku pernah ingin benar padamu<br />di malam raya,menjadi kanak kanak kembali</p>
<p>kita berpeluk ciuman tak jemu<br />rasa tak sanggup kau ku lepaskan<br />jangan satukan hidupmu dengan hidupku<br />aku memang tidak bisa lama bersama<br />ini juga ku tulis di kapal dilaut tak bernama!</p>
<p>1946</span></p>
<p>Post-script: Tetaplah kuat, seperti yang sudah kau tunjukkan padaku bertahun-tahun lamanya. Kaulah empu dalam hal ketabahan. Andai aku bisa membantu, apa pun, ya apa pun…. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/306/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/306/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=306&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/16/nasib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp3.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SFfkkCL-wjI/AAAAAAAAAdk/ZsMNhOc6yOA/s320/2538638319_c3594f4a81.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Zidane</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/09/zidane/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/09/zidane/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 08:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/09/zidane/</guid>
		<description><![CDATA[[ini esai lama yang ditulis dan dimuat setelah prancis mengalahkan brazil pada perempatfinal piala dunia 2006. prancis akhirnya kalah dari italia di final dan zidane --kita tahu-- dikartu merah karena insidennya dengan materazzi] Usai menyaksikan si tua bangka Zinedine Zidane sendirian mengobrak-abrik kesebelasan Brazil di perempat final Piala Dunia 2006, orang-orang Prancis seperti dipaksa untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=305&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:85%;"><span style="font-style:italic;">[ini esai lama yang ditulis dan dimuat setelah prancis mengalahkan brazil pada perempatfinal piala dunia 2006. prancis akhirnya kalah dari italia di final dan zidane --kita tahu-- dikartu merah karena insidennya dengan materazzi]</span></span></p>
<p>Usai menyaksikan si tua bangka Zinedine Zidane sendirian mengobrak-abrik kesebelasan Brazil di perempat final Piala Dunia 2006, orang-orang Prancis seperti dipaksa untuk merumuskan kembali apa artinya menjadi tua.</p>
<p>Prancis dikenal sebagai negeri yang selalu terbuka terhadap pembaruan. Di Prancis-lah, persisnya pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi dahsyat yang sukses menjebol kekukuhan tembok penjara Bastille yang selama 400 tahun lebih menjadi bui para maharaja Prancis menjebloskan musuh-musuh politiknya. Orang Prancis merayakan hari itu sebagai hari nasional; titimangsa yang dikenang sebagai simbol dari robohnya ancient regime (rezim lama) yang korup dan despotik.</p>
<p>Revolusi Prancis itu terbukti membangkitkan inspirasi dan membangunkan fantasi banyak orang di negeri-negeri yang jauh akan indahnya kemerdekaan dan kebebasan. Bukan cuma menginspirasi Revolusi Oktober 1917 di Rusia, tetapi juga sedikit banyak menjalar ke nadi para pentolan nasionalisme di Indonesia. Pram, lewat tokoh Minke, berkali-kali menyebut-nyebut Revolusi Prancis sebagai salah satu yang menginjeksi semangat perlawanannya yang berkobar terhadap kolonialisme.<span></p>
<p>Tetapi, yang juga pasti, revolusi 1789 itu seperti menjadi darah dan daging bangsa Prancis, menjadi serum yang terus-terusan menginjeksi bangsa Prancis untuk selalu terbuka pada perubahan, mengakomodasi gejolak dan fantasi heroik kaum revolusioner, memantik terus-terusan kaum muda Prancis untuk tidak mau stagnan, dan menginspirasi para filsuf Prancis untuk terus-menerus menggali sampai ke kemungkinan yang terjauh dari batas-batas kemampuan berpikir manusia.</p>
<p>Mestikah diherankan jika gerakan kebudayaan dan pemikiran berlabel post-strukturalisme dan post-modernisme mulai lahir dari para filsuf Prancis? Mestikah pula diherankan jika seorang Derrida dan Barthez yang mengacaukan peta filsafat dunia dengan ide-idenya yang menerabas konvensi filsafat itu lahir di Prancis? Mestikah diherankan jika hanya di Prancis-lah kaum buruh di sebuah negara maju Eropa bisa seenaknya mengobrak-abrik ibu kota jika tuntutannya dilecehkan? Dan, mestikah pula diherankan jika para pelarian revolusioner macam Milan Kundera dari Ceko hingga Hasan al-Banna dan Ayatollah Khomeini yang sukses mengobarkan spirit Islam radikal memilih hengkang ke Paris ketika dikejar-kejar rezim di dalam negeri dan diterima dengan lapang oleh bangsa Prancis?</p>
<p>Pendek kata, Prancis adalah surga bagi semua ide dan orang yang mencintai perubahan. Kaum muda karananya punya tempat istimewa di sana. Mereka diberi kesempatan untuk mencoba apa yang mungkin bisa dicoba.</p>
<p>Jadi, wajar jika publik Prancis sebetulnya tidak terlalu yakin tim nasional mereka bisa digdaya di Piala Dunia kali ini. Itu terjadi karena Raymond Domenech, juru racik taktik tim Prancis, terlalu memercayai serombongan tua bangka yang dianggap sudah habis kemampuannya.</p>
<p>Publik Prancis ingat, persis ketika timnya berantakan di Piala Dunia 2002, Korea Selatan yang menjadi tuan rumah sukses melaju hingga semifinal. Ketika itu, Korsel dipenuhi anak-anak muda yang bersemangat. Dan, entah kebetulan entah tidak, di waktu yang nyaris bersamaan, di Korsel sedang berlangsung perang hebat antara generasi tua versus muda.</p>
<p>Dan, hebatnya, di Korsel &#8220;perang&#8221; itu dimenangkan kaum muda. Presiden Roh Mo Hyun adalah bukti menangnya kaum muda dalam &#8220;perang&#8221; melawan orang-orang tua. Roh, yang tak memiliki riwayat politik kemilau, tiba-tiba menyalip di tikungan terakhir. Dia memenangi pemilihan umum berkat dukungan kaum muda.</p>
<p>Kaum muda yang menjadi kunci kemenangan Roh disebut sebagai &#8220;angkatan 386&#8243;. 386 adalah sebutan untuk orang-orang berusia 30-an, yang pada dekade 1980-an getol melakukan perlawanan terhadap pemerintahan militer Korea Selatan. Mereka juga rata-rata kelahiran 1960-an.</p>
<p>Kemenangan &#8220;angkatan 386&#8243; itu berefek berantai. Yang pasti, kemenangan itu pemicu &#8220;perang&#8221; antargenerasi. Perlahan, tapi meyakinkan, angkatan muda Korsel menduduki pos-pos penting, menggantikan orang-orang tua yang mulai &#8220;pikun&#8221;, lamban, dan loyo gairahnya. Itu terjadi di mana-mana, nyaris di segenap sektor kehidupan di Korea Selatan.</p>
<p>****</p>
<p>Publik Prancis dan dunia seperti belum teryakinkan kekukuhan Zidane untuk turun gelanggang di Jerman. Apa pun dalihnya, tuah Zidane dipercaya sudah redup. Kegagalan Zidane memberikan gelar untuk Real Madrid selama dua tahun terakhir seperti menjadi penambalan atas keroposnya magis Zidane tua.</p>
<p>Kekukuhan Zidane untuk tetap turun gelanggang awalnya seperti menunjukkan dia sebagai orang yang sedang mengidap virus gerontokrasi (untuk memelesetkan istilah kedokteran, gerontologi, yang merujuk fase ketika individu memasuki masa uzur): virus yang menggambarkan kekerashatian seorang tua yang memaksakan diri merasa muda dan mampu.</p>
<p>Tetapi, begitu menyaksikan bagaimana Prancis menjungkalkan Brazil, lewat Zidane yang bermain penaka seorang konduktor berpengalaman memimpin orkestra yang sedang memainkan sebuah nomor indah kepunyaan Tchaikovsky, publik Prancis seperti diajak untuk merenung: betapa tua terkadang tidak identik dengan kelambanan dan nihilnya gairah.</p>
<p>Jika orang-orang Prancis ditanya komentarnya mengenai Zidane beberapa saat setelah kemenangan atas Brazil itu, salah satu di antara mereka yang ditanyai mungkin akan menjawab sembari mengutip kata-kata Shakespeare dalam bagian ke-3 adegan 5 naskah berjudul “Much Ado about Nothing”: A good old man, Sir!</p>
<p>Itulah yang dengan sebaik-baiknya dibuktikan Zidane, bahwa ia adalah seorang tua yang baik dan hebat, terutama setelah dia memimpin Prancis sukses menekuk Spanyol yang meraih hasil sempurna di penyisihan grup dengan skor meyakinkan 3-1 dan memulangkan Brazil yang difavoritkan lewat sebuah permainan memukau yang dipuji tidak hanya oleh Kaka dan Alberto Pereira, tetapi juga oleh Beckenbauer, Platini, dan Pele.</p>
<p>Yang juga menarik, Spanyol dan Brazil adalah rival yang sejumlah pemainnya sudah sesumbar untuk menjadikan pertandingan melawan Prancis sebagai partai terakhir Zidane bermain bola. Dua pentolan utama Spanyol dan Madrid sekaligus kompatriot Zidane di Madrid, Raul dan Ronaldo, yang mengucapkan hal itu.</p>
<p>Dan, mereka kena batunya. Mereka kena tulah akibat ucapannya. Keduanya seperti tak ingat bahwa Roberto Carlos, karib Ronaldo dan Raul sekaligus sahabat Zidane di Madrid, pernah menyebut: &#8220;Orang yang menganggap Zidane terlalu tua bermain bola adalah mereka yang tak mengerti sepak bola.&#8221;</p>
<p>Kita tahu, Zidane sudah mengumumkan pengunduran diri dari dunia sepak bola usai Piala Dunia 2006 ini tuntas digelar. Dan, di situlah justru kuncinya. Bagi Zidane yang akan tutup buku dengan bola, detik-detik terakhir kehidupannya di lapangan hijau berarti sebuah pertaruhan bahwa hidup (baca: karir) mesti ditutup dengan baik dan kematian (baca: akhir karir) mesti dijemput dengan indah, seindah-indahnya.</p>
<p>&#8220;Teologi kematian&#8221; macam itulah yang, tampaknya, mendorong pemain bangkotan macam Zidane, yang dari sononya diberkati bakat alam yang cemerlang, untuk bermain sekuatnya, sebisanya, hingga batas terjauh yang mungkin bisa dia jangkau. Dia tak ingin kematiannya berakhir dengan tragis. Yang penting berusaha sebaiknya. Soal hasil, entahlah… dan sebaiknya tak usah dipikirkan karena memikirkan hasil sama saja membicarakan takdir; sama-sama tak jelas juntrungnya.</p>
<p>Saya jadi ingat sekuplet syair penyair Horatius yang begitu gemar dikutip oleh Soe Hok Gie. Katanya: &#8220;Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan, yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda.&#8221;</p>
<p>Zidane, rupanya, tak sepakat dengan puisi itu. Baginya, jika mati tua bisa dihayati dengan kegemilangan dan kebahagiaan, untuk apa mati (baca: pensiun) lekas-lekas?</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/305/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/305/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=305&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/09/zidane/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vienna</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/06/06/vienna/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/06/06/vienna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 12:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/06/06/vienna/</guid>
		<description><![CDATA[[versi asli posting ini bisa diliat di sini. esai bola berikutnya ditunggu aja, ya....] Begitu pluit pertama Piala Eropa 2008 ditiup di Basel, saat itulah perjalanan panjang menuju Wina (Vienna) dimulai. Di Wina itulah kampiun sepakbola Eropa kelak akan ditentukan pada 29 Juni 2008. Jauh sebelum 16 negara sepakbola terbaik di Eropa bertarung satu sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=304&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:85%;">[versi asli posting ini bisa diliat <a href="http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&amp;id=345165">di sini</a>. esai bola berikutnya ditunggu aja, ya....]</span></p>
<p>Begitu pluit pertama Piala Eropa 2008 ditiup di Basel, saat itulah perjalanan panjang menuju Wina (Vienna) dimulai. Di Wina itulah kampiun sepakbola Eropa kelak akan ditentukan pada 29 Juni 2008.</p>
<p>Jauh sebelum 16 negara sepakbola terbaik di Eropa bertarung satu sama lain memburu kejayaan di Wina, sudah banyak jenderal yang ingin menaklukkan Wina. Para jenderal dari Kekaisaran Roma atau dari Kekhalifahan Utsmaniyah pernah mencobanya. Tapi, barangkali, tak ada yang lebih terkenal selain Napoleon Bonaparte.</p>
<p>Jendral Kancil dari Prancis itu, yang menggelar serangkaian peperangan besar yang dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Napoleonic War, bahkan sempat melansir sebuah parafrase yang kelak menjadi begitu terkenal: “If you start to take Vienna, take Vienna!”<span></p>
<p>Pada 1905, beberapa saat setelah merebut kota Ulm tanpa meletuskan satu pelor pun, pasukan Napoleon terus bergerak menghancurkan pasukan Aliansi (Austria dan Russia) yang mengundurkan diri hingga ke Olmutz yang terletak di timur laut Wina. Bergabungnya tiga kekuatan itu membalikkan situasi dengan seketika dan menempatkan pasukan Napoleon dalam situasi tertekan.</p>
<p>Kecerdikan Napoleon yang sudah termasyhur yang akhirnya menentukan akhir peperangan. Dengan memasang strategi yang sepintas terlihat ketakutan, termasuk dengan memasang wajah penuh kecemasan sewaktu menemui utusan Raja Austria, Napoleon berhasil memancing pasukan Aliansi untuk keluar dari pertahanannya.</p>
<p>Tanpa pernah diduga Jenderal Kutuzov, panglima pasukan Aliansi dari Rusia, pasukan Napoleon tiba-tiba muncul dan dalam gerak yang begitu cepat dan ringkas (yang memang menjadi ciri khas sekaligus kekuatan utama pasukan Napoleon), pasukan Aliansi bisa dicerai-beraikan.</p>
<p>Peperangan yang berakhir pada Desember 1905 yang dingin itu diakui para sejarawan sebagai kemenangan Napoleon yang paling monumental. Parafrase “If you start to take Vienna, take Vienna” menjadi bagian dari mitologi kehebatan Napoleon sebagai jendral perang brilian yang berhasil menaklukkan Wina.</p>
<p>Sampai-sampai, Beethoven menggubah Symphony No. 3 in Eb ‘Eroica’ untuk dipersembahkan kepada Napoleon yang dianggapnya sebagai “pribadi agung” (de un grand’ uomo).</p>
<p>*****<br />Peperangan-peperangan besar yang melibatkan Wina seperti menegaskan genesis kota Wina yang mulanya memang dibangun sebagai kamp militer Kekaisaran Roma di Eropa Daratan. Tapi, cerita Wina tak hanya melulu soal peperangan. Sejarah Wina juga dihiasi sejumlah perjanjian-perjanjian penting.</p>
<p>“Kongres Wina”, yang berlangsung antara September 1814 hingga 9 Juni 1815, dianggap sebagai momen terpenting dalam sejarah Eropa setelah Revolusi Prancis yang menginspirasi gerakan anti-monarki di segenap penjuru Eropa. Diarsiteki oleh Kanselir Austria, Matternich, Kongres Wina mencoba menegakkan kembali sistem monarki di Eropa yang sempat tercerai-berai.</p>
<p>Perang Dingin antara Amerika dan Sovyet juga mulai mencair setelah Presiden Amerika, JFK Kennedy, bertemu dengan pemimpin Sovyet, Nikita Kruschev, di Wina pada Juni 1961. Dari situlah gagasan “hidup berdampingan secara damai” antara dua adidaya mulai dianyam sebelum Ronald Reagen kembali mengambil kebijakan ofensif pada 1980-an.</p>
<p>Di atas semua itu, Vienna Convention on the Law of Treatise (yang masyhur dengan sebutan Konvensi Wina), yang dibuat di Wina pada 1969, bahkan menjadi acuan dasar bagi 108 negara yang akan membuat perjanjian. Konvensi Wina adalah cetak biru yang menjadi aturan dasar bagi semua perjanjian internasional antar-negara.</p>
<p>Diktum “war is nothing more than the continuation of politics by other means”-nya Carl von Clausewitz seperti coba dipatahkan oleh Konvensi Wina. Alih-alih perang, diplomasi dan perundingan sebagai cara terbaik menyelesaikan semua perkara internasional menjadi semangat utama Konvensi Wina.</p>
<p>Jika peperangan dianggap sudah tak lagi pantas dijadikan medium mencari negara mana yang paling digdaya, sepakbola menjadi salah satu cara terbaik untuk menggelorakan hasrat nasionalisme dengan cara yang lebih beradab. Piala Eropa menyediakan panggung untuk perayaan itu.</p>
<p>Kata-kata Napoleon, “If you start to take Vienna, take Vienna!”, bergema kembali di dada setiap 368 pemain dari 16 kesebelasan peserta Piala Eropa 2008 dalam cara yang begitu berbeda. Kata-kata “to take Vienna” menjadi metafora dari pertarungan panjang memperebutkan gelar Kampiun Eropa.</p>
<p>Semua bermimpi bisa bermain di Wina dan merengkuh gelar sebagai kampiun di sana. Semua merindukan Wina, semuanya menginginkan Wina. Wina adalah simbol dari kejayaan dan kemasyhuran. Siapa yang bisa berpesta di sana, ia akan dicatat oleh sejarah.</p>
<p>Kerinduan akan Wina ini seperti menggemakan kembali kerinduan yang aneh seorang Federico Garcia Lorca, penyair flamboyan Andalusia yang terkenal karena sajak-sajak balada yang ditulisnya. Pada bait terakhir sajaknya yang berjudul Pequeño vals Vienés (Little Viennese Waltz), Lorca menulis: “En Viena bailaré contigo” (Di Wina aku akan menari denganmu).</p>
<p>Sebelum saatnya benar-benar telah tiba, tidak akan ada yang tahu siapa yang akan berpesta dan menari di Wina bersama Lorca. Satu-satunya cara agar hasrat dan mimpi tentang Wina terus terjaga adalah dengan melakoni pertandingan satu demi satu dengan sebaik-baiknya, mengerahkan kemampuan yang dimiliki dengan sehebat-hebatnya.</p>
<p>Selebihnya, biar nasib mencari jalannya sendiri-sendiri, karena hanya akan ada satu kesebelasan yang bisa merengkuh mimpinya tentang Wina dan menari dalam pesta di sana, sementara 15 kesebelasan lainnya akan merasakan sungsangnya menyaksikan mimpi dan hasrat yang menguap ke udara.</p>
<p>Karena sehebat-hebatnya Napoleon, toh akhirnya ia mesti melepaskan Wina usai kekalahan di Waterloo. Begitu juga dengan sajak Lorca yang diam-diam menyimpan dengan rapi kemuraman dan kesunyian yang tak mengenakan di ujungnya: “Dejaré mi boca entre tus piernas,/ mi alma en fotografías y azucenas,/ y en las ondas oscuras de tu andar” (Aku akan meninggalkan suaraku di antara derap kakimu, meninggalkan jiwaku pada gambar-gambar dan bunga-bunga lili, serta pada kemuraman langkah kakimu).</p>
<p>Perjalanan menuju Wina adalah pertarungan menuju kejayaan dan kemasyhuran. Tapi, jangan lupa, di sisinya juga menguar tragedi dan kesedihan dari kesebelasan yang tersisih dan terjungkal. Itulah dua sisi antagonisme yang tak terpisahkan dari drama sepakbola, persis seperti imaji yang coba dihamparkan sajak Lorca tadi: tentang kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan kehancuran, serta epik dan tragedi yang bersisian dalam satu harmoni yang ganjil.</p>
<p>Semuanya dimulai di Basel dan akan menemukan klimaksnya di Wina: kota di mana sejumlah peperangan besar dan kesepakatan perdamaian penting pernah diguratkan.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/304/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/304/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=304&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/06/06/vienna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/05/26/malam/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/05/26/malam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 22:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/05/26/malam/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sering bergelut senda dengan malam. Kadang, dengan amat sadar, saya lebih memilih memicingkan mata tinimbang memejamkannya. Memilih terjaga daripada terlelap. Tapi, belakangan, rasa-rasanya bukan saya yang memilih. Sekarang malam yang sepertinya lebih sering memilih saya. Maka terjagalah saya. Sepanjang malam, sepanjang kelam. Juga malam ini. Susah benar membenamkan mata pada kelopaknya. Padahal lampu sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=303&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SDs_4cW7QrI/AAAAAAAAAdc/CaljGe7-I_s/s1600-h/Dini+Hari+di+Veteran+%282%29.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:174px;height:264px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp1.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SDs_4cW7QrI/AAAAAAAAAdc/CaljGe7-I_s/s320/Dini+Hari+di+Veteran+%282%29.jpg" alt="" border="0" /></a>Saya sering bergelut senda dengan malam. Kadang, dengan amat sadar, saya lebih memilih memicingkan mata tinimbang memejamkannya. Memilih terjaga daripada terlelap. Tapi, belakangan, rasa-rasanya bukan saya yang memilih. Sekarang malam yang sepertinya lebih sering memilih saya.</p>
<p>Maka terjagalah saya. Sepanjang malam, sepanjang kelam. Juga malam ini. Susah benar membenamkan mata pada kelopaknya. Padahal lampu sudah dipadamkan, buku-buku sudah dirapikan, tempat tidur sudah dihamparkan dan badan sudah dibaringkan.</p>
<p>Butuh kesabaran untuk terus menahan diri tetap telentang di pembaringan, melawan naluri tubuh yang menjompak-jompak selalu ingin bangkit dan terjaga. Saya jadi mengerti kenapa Chairil memberi salah satu sajaknya judul: “Kesabaran”.</p>
<p><span style="font-style:italic;">Aku tak bisa tidur</span><br /><span style="font-style:italic;">Orang ngomong, anjing nggonggong</span><br /><span style="font-style:italic;">Dunia jauh mengabur</span><span></p>
<p>Saya pernah menganggap “Kesabaran” adalah judul sajak Chairil yang paling ganjil, untuk tak menyebutnya yang terburuk. Tapi, pertarungan untuk terlelap yang selalu tergelar malam demi malam membuatku lebih mengerti kenapa Chairil memilih kata “Kesabaran” sebagai judul sajaknya. Sebab, tak mudah bagi para pengidap insomnia untuk terlelap. Butuh kesabaran tak sederhana untuk mengirim sepasang mata di bawah naungan keteduhan kelopaknya.</p>
<p>Mungkin saya memang bukan orang yang cukup penyabar. Jika setelah setengah jam tak juga terlelap, saya kadang menyerah, lalu bangkit dari pembaringan, menyalakan rokok, menyeduh kopi dan kemudian menyeruputnya. Lalu, seperti yang sudah-sudah dan memang selalu begitu, buku-buku menjadi sasaran pelampiasan kegagalan menaklukkan dorongan tubuh yang selalu ingin terjaga. Musyawarah buku pun tergelar. Kadang lama. Kadang singkat. Tak tentu.</p>
<p>Jika sudah begini, giliran otak yang minta dipuaskan. Dengan segera kening berdenyut, menyusun garis-garis tipis di jidat –tanda bahwa saya sedang memikirkan sesuatu, dari yang berat hingga yang ringan, dari yang serius sampai yang sepele, dari yang suci hingga yang jorok.</p>
<p>Ritus selanjutnya mudah ditebak: notebook kembali menjadi altar tempat aku menghaturkan hio berupa deretan aksara yang kujejalkan dengan paksa. Hampir semua postingan di blog ini dilahirkan di tengah ritual malam yang –sejujurnya—begitu melelahkan.</p>
<p>Kadang, jika tenaga masih berlebih, saya sempatkan menyusuri jalanan Jakarta dengan mengayuh sepeda berwarna kuning. Jika tidak, saya hanya berjalan kaki mengikuti arah angin: mungkin duduk-duduk di gigir jalan Veteran yang tua sembari menatap jejeran lampu merkuri yang tergantung di sesela semak Ciliwung, kadang pergi ke Stasiun Juanda menyantap mie rebus atau roti bakar, sesekali –terutama jika bulan sedang penuh—saya senang duduk di bangku taman Monas sembari membaca beberapa buku cerita dan mencuri-curi pandang pada purnama yang bulat &#8211;lalu ingat sajak Rendra “Bulan Kota Jakarta” yang ditulis pada 1955: “Bulan telah pingsan/ di atas kota Jakarta/ tapi tak seorang menatapnya”.</p>
<p>Tapi, semua pengalaman yang sepintas terasa menyenangkan itu sebetulnya sering terasa meletihkan, terutama pada saat di mana saya sebenarnya benar-benar ingin istirahat. Tapi kantuk selalu datang terlambat. Ia seperti sedang memusuhi saya. Sementara malam rasanya berubah menjadi pencemburu yang tak sudi jika hanya siang saja yang bisa memperkosaku. Tubuhku seperti menjadi panggung di mana waktu begitu bersemangat memamerkan kuasanya.</p>
<p>Inilah yang sedang saya hadapi: diperkosa siang dan digagahi malam!</p>
<p>Ini berakibat buruk, tentu saja. Wajah makin tirus. Mata lebih sering memerah. Berat badan saya sebenarnya tak menciut drastis, tapi hampir semua orang yang mengenalku bertahun-tahun lalu menyebutku tampak lebih kurus. Selera makan anjlok. Sudah lebih dari dua minggu rasa lapar baru datang sekitar jam 7 malam.</p>
<p>Anehnya, emosi saya stabil. Marah karena hal-hal yang memang menjengkelkan tentu masih kadang datang. Tapi itu tak pernah lama hinggap. Kemarahan bisa punah tak sampai sepenghisapan kretek.</p>
<p>Beberapa tulisan yang cukup bagus bisa saya hasilkan. Beberapa di antaranya berhasil memenuhi ekspektasi saya, standar yang saya tetapkan sendiri. Bulan ini ada empat tulisan yang muncul di koran. Itu bagus, saya kira. Sebab, beberapa bulan yang lalu, paling banter cuma sebiji yang dimuat. Karena memang sebanyak itu pula yang saya kirimkan. Sejak setahun terakhir, saya enggan sembarang mengirimkan tulisan. Jika tak memenuhi standar yang saya tetapkan, tak akan pernah saya kirimkan. Jika hanya sebiji yang dimuat dalam sebulan, artinya sebiji itu pula tulisan yang memenuhi standar pribadi yang berhasil aku buat selama sebulan. Dan sebulan ini ada empat tulisanku yang muncul di koran.</p>
<p>Di sini saya menjumpai paradoks. Di satu sisi saya begitu jengkel dengan susahnya saya tidur –sebentuk kejengkelan yang kadang membuat saya merasa begitu letih dan frustasi. Tapi, di tengah keletihan dan kejengkelan itu, saya kok bisa lebih jernih menulis, bisa lebih sabar menatah kata dan menyungging makna.</p>
<p>Malam, barangkali, tak sejahat seperti yang saya bayangkan sewaktu jengkel karena kantuk begitu enggan mendekat. Jangan-jangan, tubuh saya memang tahu benar bahwa sekaranglah saatnya saya bekerja sekuat-kuatnya. Mungkin, ya… mungkin, saya tak pandai membaca isyarat tubuh saya.</p>
<p>Pertaruhannya memang tidak kecil. Amat bisa jadi kelak saya akan ambruk dan mesti berbagi ranjang dengan penyakit. Membayangkan itu bukan hal yang mudah. Menyedihkan rasanya tergolek tanpa daya, menjadi tuna karya.</p>
<p>Tapi malam mungkin memang telah memilih saya sebagai sahabatnya. Tak ada pilihan lain: saya menerimanya!</p>
<p>Kebetulan ada buku yang mesti kuselesaikan secepat-cepatnya. Ini janji sekaligus kewajiban pada kantor yang sudah terlalu lama tertunda. Ada sekitar 100-an naskah sepanjang 700 kata yang mesti saya tulis untuk melunaskannya. Bukan soal mudah karena sebagian terbesar buku-buku yang kubutuhkan masih ada di Jogja, sementara saya tak punya cukup alasan untuk mendatangi kota tua itu hanya sekadar untuk mengambil buku.</p>
<p>Bulan depan, bulan Juni, sepertinya akan menjadi bulan yang dipenuhi oleh malam-malam panjang yang riuh. Selain hutang buku yang belum terlunaskan, Piala Eropa yang dimulai pada 8 Juni hampir pasti akan membuat saya makin akrab dengan malam. Saya tak ingin melewatkan satu pun pertandingan. Bukan semata karena saya amat senang nonton bola, tapi juga karena saya mesti menulis sejumlah esai tentang (kebudayaan) bola di sebuah surat kabar.</p>
<p>Saya berpikir untuk tak lagi mengutuki insomnia ini. Jika memang malam sedang mesra dengan saya, maka nikmati sajalah. Jika memang belum ngantuk, kenapa harus jengkel jika mesti terus terjaga?</p>
<p>“Aku menghitung prajuritku pada malam hari,” kata Napoleon.</p>
<p>Saya tak punya prajurit, tentu saja. Saya hanya punya kata-kata. Saya mengeluarkannya. Saya menatahnya. Saya menyunggingnya. Saya menghitungnya. Semuanya berlangsung pada malam, yang kadang terang, kadang kelam.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br /><span style="font-style:italic;font-size:85%;">post-script: gambar di atas diambil pada dini hari pukul 02.20, tepat di depan kantor saya.</span><br /></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/303/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/303/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/303/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=303&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/05/26/malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SDs_4cW7QrI/AAAAAAAAAdc/CaljGe7-I_s/s320/Dini+Hari+di+Veteran+%282%29.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia (2)</title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/05/24/indonesia-2/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/05/24/indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 01:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/05/24/indonesia-2/</guid>
		<description><![CDATA[Jika hari ini masih ada yang percaya bahwa Indonesia adalah “pusaka abadi yang jaya”, mungkin tak ada salahnya jika saya menuliskan kembali syair Rene de Clerque yang pernah dikutip Hatta dalam pledoi berjudul “Indonesie Vriij” yang dibacakannya di muka pengadilan Belanda di Den Haag: “Hanya satu negeri yang menjadi negeriku.Ia tumbuh dari perbuatan,dan perbuatan itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=302&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika hari ini masih ada yang percaya bahwa Indonesia adalah “pusaka abadi yang jaya”, mungkin tak ada salahnya jika saya menuliskan kembali syair Rene de Clerque yang pernah dikutip Hatta dalam pledoi berjudul “Indonesie Vriij” yang dibacakannya di muka pengadilan Belanda di Den Haag:</p>
<p><span style="font-style:italic;">“Hanya satu negeri yang menjadi negeriku.</span><br /><span style="font-style:italic;">Ia tumbuh dari perbuatan,</span><br /><span style="font-style:italic;">dan perbuatan itu adalah usahaku.”</span></p>
<p>Kutipan syair de Clerque itu sudah cukup jelas menunjukkan kehendak kuat seorang Hatta untuk melibatkan diri dalam proses sejarah –sebuah proklamasi pelibatan diri untuk merealisasikan apa yang disebut sebagai “tanah air yang merdeka”. </p>
<p>Tetapi bukan itu yang pokok. Hal terpenting yang patut dicatat dari kutipan syair de Clerque itu adalah keyakinan Hatta yang begitu penuh ihwal arti penting “perbuatan dan usaha”. Dengan itu Hatta ingin mengatakan bahwa Indonesia bukanlah satu takdir, bukanlah satu wahyu dari langit dengan kepastian yang presisi, bukan pula sesuatu yang lahir secara alamiah dan karenanya cukup hanya dengan menengadahkan tangan. Ia hanya mungkin jika diusahakan.<span></p>
<p>Indonesia yang merdeka, itulah terjemahan judul pledoi Hatta, ketika itu masih belum begitu jelas akan seperti apa bentuknya, tetapi kolonialisme bagi Hatta sudah nyaris mendekati akhirnya.</p>
<p>Dengan nada yang kencang dan dengan persistensi yang begitu meyakinkan, Hatta menguarkan ramalannya pada pledoi yang sama: “…penjajahan Belanda di Indonesia akan berakhir, buat saya telah merupakan kepastian. Persoalannya hanya waktu, cepat atau lambat, ya atau tidak! Bangsa Belanda harus menerima hukum besi sejarah ini, terlepas dari apakah dia mau menerimanya atau tidak.”</p>
<p>Kehancuran kolonialisme adalah hukum sejarah yang tak bisa ditolak, tetapi –Hatta mengingatkan— kepastian itu tidak serta merta akan melahirkan satu tanah air yang merdeka, bangsa yang berdaulat dan negara yang kuat. Semua itu hanya mungkin lahir (dengan menyitir lagi syair de Clerque) “dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku”.</p>
<p>Jika pokok-pokok itu diletakkan dalam situasi hari ini, maka bolehlah jika logika Hatta itu diturunkan menjadi begini: “Tidak ada satu pun yang bisa memastikan bahwa Indonesia akan tetap ada di masa mendatang. Kepastian ada atau tidaknya Indonesia kelak hanya mungkin jika diusahakan dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku!”</p>
<p>Semua itu berpangkal dari satu keyakinan bahwa Indonesia bukanlah satu takdir, satu kepastian, satu wahyu yang wingit, bukan pula satu postulat yang berada di luar sejarah. Indonesia adalah sesuatu yang menyejarah, dibentuk oleh banyak sekali peristiwa, ditatah oleh ribuan tangan yang berusaha, disungging oleh entah berapa banyak kebetulan sejarah.</p>
<p>Genesis Indonesia tidak sepasti syair lagu “Indonesia Tanah Air Beta” yang digubah Ismail Marzuki: lagu indah yang menghamparkan fiksi ihwal Indonesia sebagai negeri yang “sejak dulu dipuja-puja bangsa” sekaligus menyandang predikat laksana “pusaka abadi yang jaya”.</p>
<p>Indonesia juga bukanlah negeri yang sudah ada sejak 6000 tahun lalu seperti yang dibayangkan Yamin dalam buku “6000 Tahun Sang Saka Merah Putih”.  Tidak ada Indonesia yang dipuja-puja berbagai-bagai bangsa sejak dahulu kala. Indonesia adalah temuan abad-20. Sebelum itu, hanya ada Tarumanegara, Sriwijaya, Samudera Pasai, Majapahit, Mataram….</p>
<p>Indonesia juga bukanlah “pusaka”, karena sebuah negeri tidak lahir dengan wahyu keprabon yang melesat seperti lintang kemukus pada dini hari atau yang memancar dari paha Ken Dedes atau seperti air kelapa yang ditenggak &#8211;moyang Dinasti Mataram&#8211; Ki Ageng Pemanahan. Juga tidak ada yang bisa memastikan bahwa Indonesia akan “abadi dengan jaya” hingga entah kapan, karena toh belum genap seabad riwayat Indonesia, Timor Leste ternyata sudah merdeka, Papua masih terus bergolak dan suara perlawanan dari Aceh masih jauh untuk disebut sayup-sayup.</p>
<p>Indonesia sebagai sebuah kepastian, sebagai sebuntal takdir, sebagai segugus wahyu, adalah bagian dari pasangnya arus besar nasionalisme pada masa pergerakan. Di situ, Ismail Marzuki dan Muhammad Yamin tidak sendiri. Keduanya wakil dari satu semangat zaman yang sedang bergemuruh yang –terkadang—mengunduh apa saja yang bisa menginjeksi semangat, entah itu babad, serat-serat, legenda, mite atau fiksi sekali pun.</p>
<p>Pada 1928, dalam artikel di “Soeloeh Keadilan” yang ditulis untuk menyanggah tulisan Agoes Salim, Bung Karno merumuskan nasionalisme Indonesia sebagai “&#8230;suatu nasionalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai suatu wahyu, dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai suatu bakti.”</p>
<p>Soekarno, seperti banyak yang lainnya juga, menerima Indonesia sebagai “wahyu” dan menjalankan “wahyu” tak ubahnya sebagai “bakti”.  Jika “wahyu” dimengerti sebagai sesuatu yang dijatuhkan dari “langit”, maka “bakti” terhadap Indonesia tidak hanya menjadi laku yang sifatnya historis belaka, tetapi juga sesuatu yang transenden.</p>
<p>Jika Ben Anderson benar ketika menyebut nasionalisme sebagai sebuah hasil pembayangan, saya percaya, nyaris menjadi suatu yang mustahil jika pembayangan akan Indonesia itu sama levelnya antara orang yang berada di Aceh, Jambi, Batam, Jogja, Bali, Ambon dan Manokrawi. Pembayangan akan Indonesia antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, yang dipisahkan oleh laut dan dipertajam oleh perbedaan sejarah, peradatan, agama dan bahasa, niscaya mengandung selisih dan marjin, dan karenanya tidak pernah (akan) bulat 100%.</p>
<p>Menerima kenyataan itu dengan terbuka jauh lebih baik ketimbang menganggapnya sebagai aib yang merusak kesucian NKRI sebagai “wahyu” yang suci nan wingit. Ini bisa menghindarkan kita dari obsesi ihwal Indonesia yang rapi, mulus, dan utuh; sebuah kemulusan, kerapihan dan keutuhan yang mungkin hanya bisa kita lihat dalam jejeran rumah-rumah adat di Taman Mini.</p>
<p>Kesadaran itu akan membuat kita tak terobsesi menambal segala keretakan, ketidakpuasan, penolakan dan perlawanan sekali pun melalui operasi plastik yang mengerahkan segala “alat bedah”yang tajam lagi menyakitkan, macam sangkur dan senapan.</p>
<p>Sejarah sudah cukup memberi kita pelajaran: alih-alih membuat Indonesia menjadi betul-betul utuh, bulat dan mulus, operasi plastik macam itu (seperti yang dilakukan Orde Baru pada malam Natal 1975 dengan mengirim balatentara ke Timor) justru membuat wajah Indonesia menjadi makin tidak mulus dan makin tidak cantik.</p>
<p>Jika obsesi akan Indonesia yang rapi, utuh, dan bulat itu masih terus dipelihara, yang pada gilirannya akan menganggap segala macam perlawanan dan ketidakpuasan sebagai aib yang menodai kesucian “wahyu”, saya khawatir, Indonesia bukan hanya menjadi pipih dan lonjong, tapi juga bopeng. Mungkin seperti wajah yang baru saja gagal dioperasi plastik.</p>
<p>Bung Hatta menyebutnya sebagai “persatean”.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/302/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/302/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=302&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/05/24/indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://begundal.wordpress.com/2008/05/21/301/</link>
		<comments>http://begundal.wordpress.com/2008/05/21/301/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 23:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://begundal.wordpress.com/2008/05/21/301/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada lagi yang perlu dibuktikan. Juara ya Juara. Titik! GLORY GLORY MAN UNITED! post-script:fans Chelsea atau MU haters, semua dalih dan alasan silakan dikirim ke John Terry yang mewek-mewek itu.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=301&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp0.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SDS2mxHDJjI/AAAAAAAAAdM/uigvnTTjHik/s1600-h/3e50798054f5f2c45936dcfce30c6859-getty-fbl-eur-c1-manutd-chelsea.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:374px;height:267px;margin:0 auto 10px;" src="http://bp0.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SDS2mxHDJjI/AAAAAAAAAdM/uigvnTTjHik/s320/3e50798054f5f2c45936dcfce30c6859-getty-fbl-eur-c1-manutd-chelsea.jpg" alt="" border="0" /></a>
<div style="text-align:center;">Tak ada lagi yang perlu dibuktikan. Juara ya Juara. Titik!</p>
<p><span style="font-weight:bold;font-size:180%;"><span style="color:rgb(204,0,0);">GLORY GLORY MAN UNITED!</span></span></p>
<p><span style="font-style:italic;font-size:85%;">post-script:</span><br /><span style="font-style:italic;font-size:85%;">fans Chelsea atau MU haters, semua dalih dan alasan silakan dikirim ke John Terry yang mewek-mewek itu.</span></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/begundal.wordpress.com/301/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/begundal.wordpress.com/301/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/begundal.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/begundal.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=begundal.wordpress.com&amp;blog=1620625&amp;post=301&amp;subd=begundal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://begundal.wordpress.com/2008/05/21/301/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_PA6ZZEZSCr4/SDS2mxHDJjI/AAAAAAAAAdM/uigvnTTjHik/s320/3e50798054f5f2c45936dcfce30c6859-getty-fbl-eur-c1-manutd-chelsea.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
